Minggu, 31 Juli 2011

Rahasia Zakat


RAHASIA ZAKAT*
*Ku: Asep Saeful Kholik, SHI


 


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى جَعَلَ الزَّكَاةَ لِلدِّيْنِ اَسَاسًا, اَشْهَدُ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ اِلَهًا وَّاحِدًا, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَـيِّدَنَا مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى, اَللَّهُـمَّ صَـلِّ وَسَـلِّمْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اْلاَتْقِيَآءِ ﴿اَمَّا بَعْدُ﴾
Alloh SWT telah menjadikan zakat sebagai sendi keislaman, dan bahkan Alloh SWT telah menempatkan kalimat zakat setelah sholat, sebagaimana firmannya dalam surat al-Baqarah ayat 43, yang artinya:

“Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat” (QS. Al-Baqarah : 43)

Nabi Muhammad telah bersabda:
بُنِىَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خمَسٍ: شَهَادَةُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, وَإِقَامُ الصَّلاَةِ, وَاِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً
“Islam itu didirikan atas lima perkara; bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh SWT dan bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa dibulan Romadhan dan haji ke baitullah bagi orang yang mampu”
Selanjutnya, Alloh SWT telah menegaskan dengan peringatan keras terhadap orang-orang yang menyia-nyiakan dalam menunaikan kewajiban zakat, sebagaimana firmannya:

“dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”(QS. At- Taubah: 34.)
Mufassirin sepakat bahwa kata INFAQ dalam ayat ini berarti Zakat!  (Jalalain: 159, al-Maroghi, Jilid IV hal.106)

RAHASIA ZAKAT SEBAGAI BAGIAN DARI SENDI ISLAM
Ada tiga tinjauan dalam menjelas-kan hal ini:
Pertama: sebagai manifestasi dari pengakuan ketauhidan kita terhadap Alloh SWT. Sebab ketika seseorang menyata-kan keimanan dan pengabdian terhadap Alloh SWT, tentu tidak ada hal yang lebih dicintai dari pada Alloh SWT , dalam hal ini terkadang harta dunia menjadi salah satu yang dicintai dan disenangi manusia sehingga menjadi penghalang dirinya dengan Alloh SWT, maka Alloh SWT menyuruh kepada umatnya untuk mendermakan hartanya sebagai bukti kecintaan terhadap Alloh SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam surat at-Taubah ayat 111

“Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah:111)
Sehingga dari ayat diatas dibuktikan dalam lintas sejarah Islam bagaimana ketaatan, pengorbanan dan pengabdian orang-orang terdahulu yang beriman terhadap Alloh SWT. Sehingga Alloh menjanjikan surga sebagai imbalan bagi mereka yang berjuang dengan jiwa, raga dan hartanya dijalan Alloh SWT. Sebagaimana kisah Sy. Abu Bakr Siddiq, beliau menyerahkan seluruh hartanya guna kepentingan Islam, sehingga tidak tersisa satu apapun bagi dirinya sendiri (ini adalah tingkatan termulia).
Kedua: zakat sebagai sarana dan upaya untuk mensucikan diri dari sifat kikir (bakhil), karena sifat Bakhil merupakan bagian dari sifat-sifat yang membinasa-kan. sehingga orang yang menjaga atau membebaskan dirinya dari sifat kikir dinyatakan Alloh sebagai orang yang beruntung Sebagimana firman –Nya.
“dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung” (QS. al-Hasyr:9)
Ketiga: zakat sebagai realita dari adanya rasa syukur ni’mat atas anugerah yang telah diberikan Alloh kepada hambanya, (Imam Ghozaly, Ihya Ulumuddin Juz I hal. 205)


TUGAS-TUGAS PEMBERI ZAKAT
Untuk menyempurnakan zakat kita, maka seyogyanya kita mengetahui tugas-tugas kita dalam menunaikan zakat, Hujjatul Islam al-Imam al-Ghozally  rha. menyatakan, ada tujuh perkara yang harus dimiliki dan dilakukan oleh seorang Muzakkiy, diantaranya:
a.    Menyegerakan zakat setelah tiba pada waktunya, hal ini dilakukan sebagai bentuk kegembiraan dalam menunai-kan segala perintah Alloh SWT.
b.    Menampakan Zakatnya, bila dengan demikian diyakini bisa membuat orang lain tergerak hatinya untuk mengikuti mengeluarkan zakat.
c.    Merahasiakannya. Karena dengan me rahasiakan zakat, infaq dan Shodakoh bisa menjauhkan diri dari sifat Riya’ (pamer) dan sum’ah (popularitas), untuk dua hal diatas Alloh SWT telah berfirman yang artinya:

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), Maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyem-bunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, Maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Baqoroh : 271)
d.    Tidak merusak nilai zakat/shodaqoh dengan menyebut-nyebut sesuatu yang dapat menyakitkan orang yang menerimanya, sebagaimana Firman-Nya yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)… “ (QS. Al-Baqoroh: 264)
Kata “al-Manni” mempunyai makna menyebut-nyebut shodaqoh yang diberikan atau meminta kepada orang yang menerimanya untuk meberitakan kepada orang lain atau menuntut pelayanan dari si penerima, seperti minta dihormati, dipuji, dll.
Kata “al-Adza” mempunyai makna menampakkan kepada orang lain atau menghinakan –dengan ucapan atau tindakan- terhadap sipenerimanya itu.
e.    Hendaknya si Muzzaky memandang pemberiannya itu bukan sesuatu yang besar, karena dengan memandang sesuatu dengan pandangan besar, itu akan lebih mudah menumbuhkan rasa kebanggaan dalam hati (ujub/takabur), yang akan membinasakan/menghapus pahala amalan kita.
f.     Memilih hartanya yang terbaik, paling disenangi dan paling bersih. Sebagaimana Firman-Nya, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkan-lah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqoroh: 267)
g.    Hendaknya memilih orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiq) dengan tepat. Hujatul Islam al-Imam Ghozali, dalam Ihya kitab al-Asror al-Zakat, menerangkan sifat-sifat khusus untuk lebih menyempurnakan Zakat, Infdaq dan Shodakoh kita, diantara sifat-sifat yang harus ada pada diri penerima Zakat, Infaq dan Shodakoh itu adalah:
  1. Hendaknya orang yang taqwa.
  2. Hendaknya orang yang termasuk golongan akhli ilmu, Pendidik, peneliti dll. sebab dengan shodaqoh itu bisa menumbuhkan dan akan menunjang kemajuan keilmuan/pendidikannya.
  3. Hendaknya orang yang benar-benar berakhlak mulia.
  4. Hendaknya orang yang bisa menjaga kehormatan  (muru’ah) nya, tidak mengemis atau meminta - minta,
  5. Lebih mengutamakan orang-orang yang sudah berkeluarga.


SHODAQOH SUNAT DAN KEUTAMAANNYA
Banyak sekali hadits yang menerangkan tentang keutamaan shodaqoh, diantaranya sabda Baginda Rasul:
تَصَدَّقُوْا وَلَوْ بِتَمْرٍ
“bersedekahlah, walaupun hanya dengan sebiji kurma”
firman Alloh dalam al-Qur’an:
¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# (#âqs?#uäur no4qŸ2¨“9$# óOßgs9 öNèdãô_r& y‰ZÏã öNÎgÎn/u‘ Ÿwur ì$öqyz öNÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“óstƒ ÇËÐÐÈ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqoroh:277)

ANCAMAN TERHADAP ORANG YANG MENYIA-NYIAKAN ZAKAT/SHODAQOH
Firman alloh dalam al-Qur'an surat at-Taubat ayat 34-35 yang artinya:
34.  Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,
35.  Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (QS. At-Taubah: 34-35)
والله اعلم


Selasa, 14 Juni 2011

Masalah Adzan Jum'at Dua Kali dan Masalah Qobla Jum'at


MASALAH ADZAN JUMA’AH DUA KALI
SARENG
MASALAH QABLIYAH JUMAT
Ditulis/dikempelkeun ku: Asep Saeful Kholik, S.Hi (Aang)*
Di Taskhih ku
                          KH. Khutib Tabroni Sareng K.A. Ridwan Jamaksyari          

A.   Masalah Adzan Jum’at Dua Kali
Dina kitab I’anatuttlhalibin Jilid I Halaman 232 (Cetakan Karya Toha Putra Semarang,tt) di tulis:  
ويسن أذانان للجمعة احدهما بعد صعود الخطيب المنبر والآخر الذى قبله…
Hartosna: “jeung sunat adzan dua kali kanggo shalat juma’ah, salah sahijina dilakukeun sa atos khotib naek ka mimbar, anu lainna dilakukeun samemeh khotib naek mimbar”
Dina kitab sohih bukhori ditulis:

 
وفى البخارى كان الاذان للجمعة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ولأبى بكر وعمر حين يجلس الامام على المنبر, فلما كثر الناس فى عهد عثمان رضى الله عنه امرهم بأذان آخر على الزوراء.
Hartosna: sareng dina kitab bukhori –dijelaskeun- adzan dina sholat juma’ah di jaman Rasululloh SAW, sareng dijaman Sayidina Abu Bakar Rda, nyakitu di Jaman Sayidina Umar Rda, dilakukeun dina waktu imam tos naek/calik di mimbar, ngan samangsa tos seueurna jalmi di jaman Sayidina Usman bin Affan, Rda, sayidina Usman marentah ka jalmi-jalmi supados ngalakukeun adzan anu sejena / nambihan sakali deui adzan (samemeh khotib naek ka mimbar) di luhureun Jaura’

Sajarah Adzan Jumat dua kali.
Khalifah anu katilu Sayidina Usman Bin Affan (ngajabat khalifah ti tahun 23 H dugi ka tahun 35 H) nambihan adzan deui di luhureun Jaura’ margi Sayidina Usman Bin Affan ninggal jalmi anu bade juma’ahan kalintang seueurna, sareng tempat damelna patarebih sahingga dina Ijtihad-na, saur Sayidina Usman bin Affan meryogikeun tambihan adzan anu maksadna mangrupikeun peringatan/ngawartosan ka jamaah supaya siap-siap ngajug-jug juma’ahan, sakumaha di Tulis dina kitab Shoheh Bukhori Juz I, Halaman 117 atanapi dina kitab Matan al-Bukhori juz I Halaman 162:
عن السائب بن يزيد قال كان النداء يوم الجمعة اوله اذا جلس الامام على المنبر على عهد النبي صلى الله عليه وسلم وابى بكر وعمر رضى الله عنهما فلما كان عثمان رضى الله عنه وكثر الناس زاد النداء الثالث على الزوراء.
3
 
Hartosna:“ti Saib bin Yazid anjeuna nyarios: adzan dina juma’ahan kawitan nana dilakukeun dina waktos imam parantos naek mimbar,ieu  di jaman Rasulullah SAW, nyakitu di jaman Sayidina Abu Bakr Sidiq, Rda, di jaman Sayidina Umar Rda, ngan dina mangsa Sayidina Usman Bin Affan Rda, sareng parantos seueurna jalmi, anjenna  nambihan “adzan anu katilu” diluhureun Zaura.” (pangna disebat adzan anu katilu sabab Qomat disebat adzan anu kadua, tegesna: tartib Adzan Juma’ahan dijaman Sayidina Usman, Rda, adzan anu kahiji samemeh khotib naek ka mimbar, teras jama’ah (jalmi-jalmi) ngalakukeun sholat Qobliyah jum’ah, dua roka’at anu mu’akad, dua roka’at Goer mu’akad, teras khotib naek ka mimbar, tos khotib di mimbar nembe dilakukeun adzan kadua, tos beres khutbah, teras Qomat. Anu sakumaha lazim dilakonan ku urang sadaya). ( Shoheh Bukhori Juz I: 117 / Matan al-Bukhori juz I Halaman 162)
Padamelan Sayidina Usman ieu teu tiasa disebat Bid’ah anu dzolalah, margi diwidian ku Baginda Rasululloh SAW, kanggo anut ka para Sohabat, khususna para sohabat anu kalebet golongan Khulafa al-Rosyidin, dawuhan kangjeng nabi:
قال النبى صلى الله عليه وسلم: اصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم إهتديتم
“Parantos ngadawuh kangjeng Nabi SAW: Sahabat kami laksana Bentang gumintang, kamana –kasaha- wae anjeun anut, pasti anjeun nampa pituduh (pasti bener)”
Dina kitab Sunan Abu Dawud Juz IV Halaman 201 di tulis:
فعليكم بسنتى وسنة الخلفآء الراشدين المهديين من بعدي. )رواه ابو داود والترمذى, الجزء الرابع ص ٢٠١(
Hartosna: “ maka wajib ka aranjeun kabeh nurut kana Sunnah kami sareng Sunnah Khulafa al-Rosyidin (Sy. Abu Bakr, Sy, Umar, Sy, Usman sareng Sy. Ali, Karomallohu wajhah wa Rodiallohu Anhum) sa atos mangsa kami” (HR. Abu Dawud wa Thurmudzi- tingal kitab Sunan Abu Dawud Juz IV Halaman 201)
Bahkan padamelan Sayidina Usman ieu kalebet bid’ah sunnah atanapi bid’ah hasanah. Dina kitab Majalis al-Saniyah Halaman 87 ditulis:
“Jeung Bid’ah teh narima kabagi kana pirang-pirang hukum anu lima: wajib, contona belajar ilmu Nahwu jeung Shorof , Haram, contona ngadamel madzhab /aliran bid’ah anu sulaya sareng Sunnah, Sunnah conto padamelah sohabat anu tos Ijma (sepertos adzan dua kali), makruh conto mapaesan masjid ku tulisan-tulisan endah, mubah conto ngadamel katuangan anu enak-enak jeng lainna”
Imam Qashthalani dina kitab Mawahibu Al-Laduniyah, Juz II hal:249, Zarqani, Juz II hal 328, matwakeun; bahwa saestuna padamelan Sayidina Usman Bin Affan janten Ijma Syukuti, margi teu aya hiji jalmi pun tikalangan Ulama Shohabat anu nolak atanapi ngabantah kana padamelanna Sayidina Usman Bin Affan.
Oge masih masalah adzan dua kali tiasa di tingal deui dina kitab I’anatuttlhalibin Jilid I Halaman 232 (tinggal oge dina matanna masih halaman anu sami).
واذانان للجمعة احدهما بعد صعود الخطيب المنبر والآخر الذى قبله انما أحدثه عثمان رضى الله عنه لما كثر الناس فاستحبابه عند الحاجة كأن توقف حضورهم عليه.
Hartosna: “sareng disunatkeun dua kali adzan dina juma’ahan anu anu salah sahijina dilakukeun sa atos khotib naek ka mimbar, ane sejenna dilakukeun samemeh khotib naek ka mimbar, eta teh mangrupikeun padamelan Usman Bin Affan samangsa seueurna jama’ah, maka hukumna Sunat lamun aya hajat, sepertos nunggu hadirna akhli jum’ah kana adzan Jum’ah”

Penjelasan nana: Sunat adzan dua kali dina jumat lamun aya hajat, didieu di contoan hajatna teh: كأن توقف حضورهم عليه   “sepertos nunggu hadirna jalmi kana juma’ahan/adzan jum’ah, tegesna biasana lamun teu acan ka rungu adzan mah ja’maah tara waka hadir kana Juma’ah” eta disebatna :
تمثيل للحاجة “conto dina hajat”. Kumaha ceunah, pan saur tadi oge jalmi tos pada kumpul, teu kedah nungguan deui, berarti tos teu aya hajat.! maka jawaban nana aya keneh hajatna anu sanesna nyaeta nunggu/masihan kasempetan kanggo jalmi ngalakonan shalat sunat Qabliyah juma’ah. Tah berarti hajatna teh ayeunana mah sanes ngan ukur ngantosan hadirna jama’ah tapi di tambih ku masihan kasempetan ka jama’ah kanggo ngalaksanakeun shalat sunat Qabla jum’ah.

B. Masalah Qabliyah Juma’ah

 
Dina bahasan anu dipengker parantos dijelaskeun saestuna salah sawios Illat adzan juma’ah dua kali teh margi masihan kasempetan ka jama’ah kanggo ngalakanonan sholat sunat Qobla Jum’at. Ngan peryogi di bahas kadudukan shalat Qabliyah jum’at, supados langkung kahartos, da aya anu nyebat bahwa dina juma’ahan mah teu aya qobla, da hadis Sulaik al-Qathafani mah pajarkeun eta hadis shalat sunat Takhiyyatul masjid. Waleran nana mangga aos/titenan tulisan  anu di handap ieu.
- Aya salah sawios hadits anu diriwayatkeun ku shahabat Jabir bin Abdillah dina kitab Sunan Ibnu Majah Jilid I, Halaman: 344, anu unggelna.
عن جابر بن عبد الله قال دخل سليك الغطفاني المسجد والنبى صلى الله عليه وسلم يخطب, فقال أصليت؟ قال لا, قال فصل ركعتين.
Hartosna: “ti Jabir bin Abdullah, parantos nyarios: lebet -salah sawios sohabat- anu namina Sulaik al-Ghatafani ka masjid, sedengkeun waktos harita kangjeng Nabi SAW nuju khutbah, maka nyarios kangjeng nabi, Naha anjen tos sholat? Ngawaler Sahabat Sulaik, teu acan! Maka nabi SAW nimbalan, solat anjen dua raka’at!”. (H.R. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah Jilid I halaman 344)
-
8
 
“Ti sahabat Ibnu Abbas, anjena nyarios; kangjeng nabi SAW salat sunat 4 raka’at samemeh juma’ah bari teu diwates tiap-tiap raka’atna (ku salam).”  (H.R. Ibnu Majah)
- 
9
 
Ti Abi Hurairah sareng Abu Sofyan ti Jabir r.a. dua nana parantos nyarios, datang sulaik al-Ghatafani, rasulullah SAW waktos harita nuju khutbah, maka Nabi nyarios: naha anjen tos sholat dua rokaat samemeh datang kadieu? Waleran nana, teu acan. Maka Rasulullah SAW cumarios: Sholat anjen dua roka’at sareng ringankeun wae (teukengeng ngaosna ayat-ayat/surat anu paranjang-panjang). Upami aya anu nyarioskeun bahwa hadits anu ngenaan Sahabat Sulaik al-Gathafani Rda. ieu mangrupakeun hadis shalat sunat Takhiyyatul Masjid, ieu kaliru pisan, sabab pasti anu ditaroskeun ku nabi dina waktos harita shalat Qobla jum’at, sabab shalat takhiyyatul masjid tangtos moal dilakonan salianti di lebet masjid. Kangjeng Nabi Naros ku cariosan: “Naha anjen tos shalat sunat (di imah atawa dijalan) samemeh kadieu (lebet ka masjid).? Sahabat Sulaik ngawaler: teu acan, maka nabi miwarang supados Sulaik al-Gathafani ngalakukeun shalat sunat dua roka’at. Jelas dina hadis ieu nabi SAW nganjurkeun shalat Qobliyah sateuacan calik ngupingkeun khutbahna khotib.
-  Diriwayatkeun ku shahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud Rda, anu unggelna
وروي عن عبد الله ابن مسعود انه كان يصلى قبل الجمعة اربعا -وبعدها- اربعا.
Hartosna: “diriwayatkeun ti Abdullah bin Mas’ud saestuna anjeuna shalat sunat samemeh juma’ah opat roka’at jeung sa atosna opat roka’at”. (Soheh Thurmudzi Jilid II, halaman 312)
Abbdullah bin Mas’ud Rda, mangrupikeun sahabat anu utami sareng anu disepuhkeun, oge dipercaya ku nabi SAW nyepeng amanah sareng salamina sasarengan wae sareng kangjeng Nabi SAW. Dicarioskeun oge, bahwa Sofyan Atsauri sareng Ibnu al-Mubarok, ngalakonan anu sakumaha dipidamel ku shahabat  Abdullah bin Mas’ud Rda. (Soheh Thurmudzi Jilid II, halaman 312)
-  Hadis Riwayat Bukhori Muslim, ti Abdullah bin Mughofal anjena nyarios:
v   عن عبد الله بن مغفل قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: بين كل اذانين صلاة
Hartosna: “ti Abdullah bin Mughofal anjena nyarios; rasululloh SAW parantos nyarios, antara dua adzan aya shalat (sunat)” (HR. Bukhori Muslim).
v   عن ابن عمر قال صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين قبل الظهر وركعتين بعدها
“ti Ibnu Umar Rda, anjena nyarios, kami sholat sareng Rasululloh SAW dua roka’at samemeh dzuhur dua roka’at saba’dana” (Soheh Thurmudzi II : 219)
Hadist-hadist anu nyarioskeun bahwa kangjeng nabi netepan Qobla Dzuhur sareng Ba’da dzuhur tos seueur dipendakan ku urang sadayana dina kitab-kitab hadis anu kasohor (kutubussitah). Shalat kangjeng nabi aya anu dua roka’at jeung aya anu opat roka’at, sholat ba’da dzuhur sareng ba’da jum’at aya anu dilakukeun di bumi anjeuna.
Upami kangjeng nabi netepan Qobla Dzuhur maka eta berarti kangjeng nabi oge nganjurkeun supaya shalat Qobla Jum’at, sakumaha cariosan Imam Nawawi dina Majmu :
11
 
والقياس على الظهر
Hartosna:“(masalah Juma’ahan) diqiyaskeun wae kana shalat Dzuhur”
Tegesna:الجمعة كالظهر  “ari Juma’ah teh eta sepertos Dzuhur”
Kusabab kitu shalat sunat Qobliyah Jum’ah miboga dalil-dalil anu kuat dina netepkeun kasunatan nana.
والله اعلم
Maroji(Daftar Pustaka)                                                              
1.    Soheh al-Bukhori” Abi Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhori,
2.    Matan al-Bukhori Bi Khasiyati al-Syanad. Dar al-Ihya
3.    Soheh Muslim
4.    Nailul Autar, Imam As-Saukani
5.    Sunan Abi Dawud
6.    Sunan Thirmidzi
7.    al-Muwatho, Imam Malik
8.    I’anat attholibin, Sayid Muhammad Syatho, Toha Putra Semarang
9.    Kifayatul ahyar, Muhammad Taqiyudin
10. Majalis as-Saniyah
11. Nihayatuzain
12. al-Majmu Syarah Muhadzab
13. Jauhar Tauhid, Syaikh Ibrohim al-Bajuri
14. al-Bajuri ala Ibni Qosi, Syaikh Ibrohim al-Bajuri
15. Jam’ul Jawami’ , al-Imam Tajuddin Abdul Wahab Ibn As-Subki

·         Penulis nyaeta Pengurus YASPINDA dan Kepala Sekolah SMP Plus Nurul Huda Yaspinda, Cisompet-Garut.